Blog ini sengaja saya buat untuk membantu teman-teman sekalian yang mungkin sedang kesusahan dalam mencari data untuk laporan praktikum. sesungguhnya postingan saya ini semuanya adalah laporan saya terdahulunya. jadi jangan lupa comen ya jika hinggap di Blog saya ini. hehehehe

Sabtu, 09 Oktober 2010

Analisis Kuantitatif Mikroorganisme

Analisis kuantitatif pada bahan pangan sangat penting untuk mengetahui mutu bahan pangan dan menghitung proses pengawetan yang akan ditetapkan pada bahan pangan tersebut. Adapun sampel yang digunakan pada praktikum kali ini adalah minuman ale-ale, teh kotak, susu UHT dan air mineral. Metode perhitungan yang digunakan untuk menghitung mikroorganisme adalah metode Agar cawan, metode MPN, dan metode hitungan mikroskopik yaitu ‘Petroff-Hauser’.

*      Metode Agar Cawan
Untuk melaporkan hasil analisis mikrobiologi dengan cara hitungan agar cawan digunakan suatu standard yang disebut Standard Plate Count (SPC). Sebelum dilakukan perhitungan terlebih dahulu dilakukan pengenceran pada masing-masing sampel. Tujuan darpada pengenceran adalah untuk memperluas bidang hidup sampel sehingga memudahkan pada saat perhitungan mikroorganisme. Pengenceran dilakukan dengan mensuspensikan sampel pada air destilat sampai 10-4 . Sampel hanya disuspensi pada pengenceran 10-3   dan 10-4  karena apabila dilakukan pensuspensian pada pengenceran rendah mikroorganisme menjadi sangat banyak dan sulit untuk dilakukan perhitungan. Sampel dengan pengenceran 10-3 dan 10-4 dituangkan ke dalam cawan petri yang berisi medium PCA dengan menggunakan metode agar tuang dan memakai pipet ukur yang berbeda sebanyak 1 mL. Penggunaan pipet ukur yang berbeda bertujuan supaya pengenceran tidak saling tercampur atau terkontaminasi satu sama lain. Berikut adalah pembahasan dari masing-masing sampel :

1.      Ale-ale
Setelah diinkubasikan selema dua hari, ditemukan adanya pertumbuhan mikroorganisme pada medium.
Pengenceran 10-3
Pengenceran 10-4
13 koloni
6 koloni
Karena masing-masing pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh Karena itu, jumlah koloni pada pengenceran yang terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan sebagai kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurum. (Fardiaz S, 1992).
 = < 30 x 103 (1,3 x 103).

2.      Susu
Percobaan sampel susu dilakukan oleh dua kelompok. Pada pengenceran 10-4 masing-masing kelompok tidak menemukan adanya pertumbuhan koloni mikroorganisme pada medium. sedangkan pada pengenceran 10-3, masing-masing kelompok menunjukkan hasil yang berbeda yaitu 1 koloni dan 4 koloni.
Karena jumlah koloni yang dihasilkan pada masing-masing sampel kurang dari 30 koloni per cawan petri maka perhitungannya sama seperti perhitungan pada ale-ale.
Ø 
Ø 

3.      Teh Kotak
Setelah diinkubasikan selama 2 hari, ditemukan pertumbuhan koloni mikroorganisme pada medium
Pengenceran 10-3
Pengenceran 10-4
1 koloni
115 koloni
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa pengenceran 10-4 menghasilkan koloni yang lebih banyak daripada pengenceran 10-3. Ini sangat tidak relevan dimana kita ketahui semakin tinggi pengenceran suatu sampel maka koloni yang dihasilkan menjadi semakin sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kesalahan prosedur seperti kontaminasi pada sampel ketika melakukan pengenceran 10-4. Jadi praktikum ini dinyatakan gagal.


4.      Air mineral
Setelah diinkubasikan selama dua hari tidak ditemukan adanya pertumbuhan koloni mikroorganisme. Jadi tidak dilakukan perhitungan.


*      Metode MPN
Berbeda dengan metode hitung agar cawan yang menggunakan medium padat, dalam metode MPN digunakan medium cair  di dalam tabung reaksi, di mana perhitungan dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan, atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung Durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas.  metode MPN menggunakan 9 tabung reaksi yang dibagi menjadi 3 seri dimana satu seri masing-masing terdapat 3 tabung reaksi. Seri pertama menggunakan medium LB DS 101(Double Strength), seri kedua menggunakan LB SS(Single Strength) 100 dan seri ketiga menggunakan LB SS (Single Strength) 10-1. Setiap tabung reaksi diisi medium cair sebanyak 10 ml. sampel yang digunakan sama seperti sampel pada metode agar cawan. Sampel dimasukkan ke dalam seri pertama sebanyak 10 ml, seri kedua 1 ml dan seri ketiga sebanyak 0,1 ml lalu diinkubasikan selama 2 hari pada suhu 37oC.
Pada sampel teh kotak, ale-ale, dan air mineral mengalami kekeruhan pada sesi pertama tetapi tidak ditemukan adanya gelembung-gelembung gas pada tabung durham demikian juga pada seri kedua dan ketiga. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa pada seri pertama, kedua dan ketiga semuanya negative (-).
Pada sampel susu, seri pertama yang menggunakan LB DS 101 menunjukkan terjadinya perubahan warna. Tetapi tidak dapat ditemukan adanya gelembung-gelembung gas yang disebabkan medium terlalu keruh. Di permukaan medium terjadi penggumpalan casein yang menunjukkan terjadi aktivitas mikroba di dalamnya. Demikian juga pada seri kedua dan ketiga terjadi perubahan warna tetapi tidak dapat ditentukan adanya gelembung gas atau tidak karena medium menjadi sangat keruh. Tetapi ditemukan penggumpalan casein di permukaan medium. Ini menandakan bahwa di dalam medium tejadi aktivitas mikroba.


*      Metode Petroff-Hauser
Prinsip dari perhitungan Petroff-Hauser yaitu melakukan perhitungan dengan pertolongan kotak-kotak skala, di mana dalam setiap ukuran skala seluas 1 mm2 terdapat 25 buah kotak besar dengan luas 0,04 mm2, dan setiap kotak besar terdiri dari 16 kotak kecil.
alat haemocytometer  digunakan di bawah mikroskop, sisinya mempunyai ukuran 0,05 mm. Sedangkan satu kotak sedang berukuran nilai 0,2 mm. Dan tebal nya adalah 0,1 mm.  Dari data pengukuran tersebut dapat dilakukan perhitungan volume :
 
 
 
3

a.              Teh kotak
Ketika dilakukan pengamatan di bawah mikroskop  ditemukan pertumbuhan mikroorganisme sebanyak 10 koloni pada kotak sedang. Jadi jumlah mikroorganisme secara keseluruhan adalah :
 
 
b.             Susu UHT
Ketika dilakukan pengamatan di bawah mikroskop ditemukan pertumbuhan mikroorganisme sebanyak 17 koloni pada kotak sedang. Jadi jumlah mikroorganisme secara keseluruhan adalah :

c.              Minuman ale-ale
Ketika dilakukan pengamatan di bawah mikroskop ditemukan pertumbuhan mikroorganisme sebanyak 21 koloni pada kotak sedang. Jadi jumlah mikroorganisme secara keseluruhan adalah :

d.             Air mineral
Ketika dilakukan pengamatan di bawah mikroskop ditemukan pertumbuhan mikroorganisme sebanyak 24 koloni pada kotak sedang. Jadi jumlah mikroorganisme secara keseluruhan adalah :

Hitungan dengan metode Petroff-Hauser cepat dan murah, tetapi mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut :
1.      Sel-sel yang telah mati tidak dapat dibedakan dari sel-sel hidup. Oleh karena itu, kedua sel tersebut akan terhitung.
2.      Sel-sel yang berukuran sangat kecil sukar dilihat di bawah mikroskop, sehingga kadang-kadang tidak terhitung.
3.      Untuk mempertinggi ketelitian, jumlah sel di dalam suspensi harus cukup tinggi, misalnya untuk bakteri minimal 106sel/ml. hal ini disebabkan dalam setiap bidang pandang yang diamati harus terdapat sejumlah sel yang dapat dihitung.
4.      Tidak dapat digunakan untuk menghitung sel jasad renik di dalam bahan pangan yang banayk mengandung debris atau ekstrak makanan, karena hal ini akan mengganggu dalam perhitungan sel.(Fardiaz S, 1992)


KESIMPULAN
·         Semakin tinggi pengenceran yang dilakukan, maka jumlah mikroorganisme yang dihasilkan akan semakin rendah.
·         Metode perhitungan SPC lebih mudah daripada metode MPN karena dapat dihitung dengan kasat mata tanpa menggunakan mikroskop.
·         Perubahan warna mengindikasikan adanya aktivitas mikroorganisme dalam medium.
·         Terbentuknya gelembung gas pada medium mengindikasikan adanya bakteri yang dapat memfermentasikan laktosa.
·         Metode Petroff-Hauser memiliki kelbihan dibanding metode yang lain yaitu cepat dan murah, tetapi memiliki kelemahan juga yaitu membutuhkan bantuan mikroskop dalam perhitungannya.




DAFTAR PUSTAKA
Fardiaz, Srikandi.1992.Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedi Pustaka Utama, Jakarta
Sukarminah Een, Deby Sumanti, dan In-In Hanidah. 2010. Mikrobiologi Pangan..Jurusan Teknologi Industri Pangan.Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Universitas Padjajaran.

Anonim. 2009. Stuktur bakteri. Avaliable at: http://id.wikipedia.org.diakses 2 April 2010.

Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi Menguak Dunia Organisme Jilid 1. Bandung : CV. Yrama Widya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar